Info LouisVuitton

Louis Vuitton Rilis Sepeda Mewah – Seperti yang kita ketahui bahwa Louis Vuitton merupakan salah satu brand terkenal di luar negeri bahkan di Indonesia. Louis Vuitton terkenal dengan tas mewah yang memiliki kualitas tinggi. Namun bukan hanya itu, Louis Vuitton juga merilis sepeda mewah

Selama masa pandemi, sepeda menjadi salah satu barang yang populer. Hal ini terjadi karena masyarakat banyak memilih bersepeda sebagai kegiatan olahraga individual. Alhasil, penjualan sepeda meningkat dan banyak brand khusus sepeda yang berlomba-lomba merilis produk terbaru.

Louis Vuitton Rilis Sepeda Mewah

Bahkan tren bersepeda ini juga masuk ke ranah industri fashion. Beberapa waktu lalu, rumah mode ternama Louis Vuitton merilis koleksi sepeda LV Bike, hasil kolaborasi dengan Maison TAMBOITE Paris, perusahaan pembuat sepeda artisanal di Paris yang sudah berdiri sejak 1912. Sepeda ini merupakan bagian dari koleksi Louis Vuitton Art de Vivre.

Kalau di Indonesia yang banyak populer adalah sepeda sport, LV Bike hadir dengan model sepeda yang lebih cocok dipakai untuk berkeliling kota dengan santai tanpa memikirkan kecepatan. Hadir dalam empat pilihan warna, merah, kuning, biru, dan hitam, LV Bike memiliki dua model berbeda. Kedua model tersebut merupakan representasi sepeda model klasik dari koleksi pertama Maison TAMBOITE Paris.

Baca Juga : Fashion Unik dari Louis Vuitton

Selain itu, koleksi sepeda ini dibuat dengan tangan sesuai standar pembuatan Maison TAMBOITE Paris. Kerangkanya terbuat dari baja berlapis enamel dan krom yang berhasil membuat sepeda jadi lebih ringan namun tetap kokoh. Empat model LV Bike juga tersedia dengan rangka step-through atau tertutup dan semuanya dilengkapi dengan drivetrain dua kecepatan.

Sepeda ini juga memiliki saddle atau pelana yang dibuat dari kulit lembut nan empuk sehingga bisa memberikan kenyamanan bagi pengguna. Lalu untuk memastikan keselamatan pengendara dan sepeda itu sendiri, LV Bike juga dilengkapi dengan teknologi yang bisa melacak lokasi keberadaan sepeda dengan sistem real time yang bisa dipantau melalui aplikasi ponsel pintar.

Dan menariknya lagi, beberapa koleksi LV Bike mempunyai aksen kulit dengan motif monogram khas Louis Vuitton berbentuk bunga dan tulisan ‘LV’ di bagian rangka, pelana, atau keranjang sepeda. Tampilan ini tidak hanya bisa memberikan pengalaman baru dalam bersepeda tapi juga membuat gaya bersepeda kamu jadi semakin chic.

Fashion Unik dari Louis Vuitton  – Louis Vuitton atau yang biasa di kenal dengan sebutan LV ini memiliki banyak sekali item yang dapat memanjakan mata. Bukan hanya itu, hampir semua item memiliki harga yang sangat mahal

1. Wireless earphone dengan harga fantastis

Kalau ngaku pernah beli earphone seharga 1-5jutaan, untuk sepasang earphone satu ini bisa berkali-kali lipat. Louis Vuitton Horizon Connected digadang-gadang menjadi salah satu wireless earphone termahal di dunia. Sepasang earphone unyu dengan lambang LV khas emas di tengahnya ini, dibanderol dengan harga sekitar 14 jutaan. Hadir dengan box bundar eksklusifnya, earphone ini nggak cuma akan melengkapi kebutuhan aksesoris ponselmu, tapi penampilan yang langsung ke-upgrade. Berminat untuk membelinya?

Fashion Unik dari Louis Vuitton

2. Berani beli smartwatch-nya LV? Kudu siap beli charger mahalnya

Punya smartwatch dari Louis Vuitton? Berarti kamu harus siap beli charger untuk Tambour Horizon ini. Memang kocek yang harus dikeluarkan untuk membeli produk ini nggak sefantastis harga jam tangannya. Tapi merogoh budget 2 jutaan untuk sebuah charger, rasanya antara ikhlas dan tidak.

3. Berminat membeli lipstcick case ini?

Sebagian besar wanita memang memiliki banyak koleksi lipstik dari berbagai merek. Biasanya, yang tersimpan di pouch ada beberapa biji. Sisanya dan yang paling difavoritkan bakal disimpan di rumah. Buat yang nggak ingin lipstik kesayangannya tergores, sepertinya kamu bakal butuh tas kecil mewah untuk menampung lipstik kesukaanmu. Nggak lepas dari aksen motif LV-nya, tas ini tergantung indah dengan rantai berwarna emasnya. Kotak penyimpanan lipstik yang terinspirasi dari 1920-an ini dibanderol dengan harga resmi sekitar Rp14 jutaan.

Baca Juga : Fakta Unik Fashion BTS dan Louis Vuitton

4. Cigar case yang harganya bisa buat beli berkilo-kilo rokok

Kalau harga lipstick case saja sudah bikin kamu mangap, tentu belum ada apa-apanya sama harga ciger case yang satu ini. Pasalnya, harga kotak untuk menampung rokok ini dihargai Rp71 jutaan. Sementara itu, untuk yang ukuran travel, LV membanderolnya dengan harga Rp17 juta.

5. Harga satuan Perfumed Wax yang bikin melongo

Hobi mengoleksi lilin aromaterapi? Kalau iya, tentu kamu udah nggak asing dengan keluaran Louis Vuitton. Lilin putih dengan tampilan elegan khas Louis Vuitton ini dibanderol dengan harga kurang lebih Rp3 juta per buahnya.

Fakta Unik Fashion BTS dan Louis Vuitton – BTS merupakan salah satu boyband kpop Korea yang sangat terkenal. Apapun yang di tampilkannya pasti membuat orang sangat memperhatikannya. Termasuk penampilan mereka dengan brand terkenal Louis Vuitton

Fakta Unik Fashion BTS dan Louis Vuitton

1. High end fashion brand pertama yang berhasil menjalin kerja-sama dengan BTS

Merupakan salah satu boyband paling populer saat ini, BTS dianggap sebagai selebriti paling berpotensi dan menguntungkan dalam dunia periklanan. Bahkan di tahun 2019, BTS pernah masuk dalam jajaran selebriti dengan bayaran termahal di seluruh dunia dengan menempati urutan ke-43.

Seorang ahli ekonomi Korea pernah menjelaskan bahwa sangat sulit untuk menjalin kerja sama dengan BTS. Menurutnya, dalam menerima tawaran kerja sama, BTS sangat mempertimbangkan banyak hal, seperti filosofi perusahaan/brand, bahkan CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan tersebut.

Lebih singkatnya bagaimana perusahaan tersebut bertanggung jawab terhadap semua yang berkepentingan, mulai dari pegawai, konsumen, hingga komunitas dan lingkungan sekitar dalam bidang sosial dan ekonomi. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, BTS dan Louis Vuitton berhasil meraih kesepakatan dan kemudian menjalin kerja sama. Selamat BTS dan Louis Vuitton!

2. BTS didapuk sebagai House Ambassador bagi Louis Vuitton

Banyak yang bilang bahwa BTS sering kali menolak untuk bekerja sama dengan High end fashion brand, karena mereka lebih suka mengenakan pakaian apa pun yang mereka inginkan, tapi siapa sangka, di bulan April kemarin Louis Vuitton memperkenalkan BTS sebagai House Brand Ambassador. Bukan lagi brand ambassador, tetapi House Brand Ambassador yang berarti BTS akan merepresentasikan Louis Vuitton secara global.

3. Bekerja-sama dengan Virgil Abloh

Dalam koleksi terbaru Louis Vuitton kali ini, BTS bekerja sama dengan desainer Virgil Abloh. Virgil Abloh merupakan desainer Afrika-Amerika pertama dari brand yang berasal dari Prancis ini. Sudah banyak dikenakan orang-orang ternama, kualitas karyanya sudah tidak perlu diragukan lagi.

Baca Juga :Hal yang Harus di Perhatikan Sebelum Membeli Tas Branded

4. Seluruh proses Runaway dilakukan di Korea

Narasi pembuka dari Runaway koleksi terbaru Louis Vuitton kali ini dibawakan dengan bahasa Korea dan diarahkan oleh sutradara film asal Korea Selatan, yaitu Jeon Go Woon, dengan mengusung tema “a conversation between space, movement, and global connectivity.”

Tidak hanya itu saja, tempat yang digunakan adalah Bucheon Art Bunker B39. Bucheon Art Bunker B39 sendiri merupakan bangunan bekas pusat pembakaran sampah yang mulai beroperasi pada tahun 1995.

Beberapa tahun setelah pusat pembakaran sampah ini ditutup, diumumkan pada tahun 2014 bahwa Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata serta Kota Bucheon menggalang dana untuk merenovasi bangunan sepenuhnya dan mengembalikannya kepada masyarakat sebagai pusat budaya dan seni. Ruang seni dan budaya akhirnya dibuka dengan nama Bucheon Art Bunker B39 pada tahun 2018.

Fitur Lambang Shio Smartwatch Louis Vuitton Fitur Lambang Shio Smartwatch Louis Vuitton

Fitur Lambang Shio Smartwatch Louis Vuitton – Setelah melewati beberapa tahap proses dalam penyaringan,akhirnya kami dapat menyempurnakan artikel yang sudah kami kumpulkan dengan data-data dari sumber yang terpercaya mengenai fitur lambang shio smartwatch Louis Vuitton.

Louis Vuitton merayakan Tahun Baru Imlek dengan menghadirkan Tambour Watch . Uniknya jam tangan pintar ini memadukan gaya ikon rumah mewah dengan lambang 12 shio Cina.

Dalam informasi yang dilansir dari hypebeast.com, smartwatch atau jam tangan pintar ini menawarkan tampilan jam yang dapat disesuaikan dengan semua 12 hewan zodiak Cina. Louis Vuitton (LV) terus menjelajahi dunia produk kulit dengan 12 dial baru yang berbeda untuk mencerminkan tanda shio yang berbeda.

Ilustrasi sapi, tikus, harimau, kelinci, ular, naga, kuda, kambing, monyet, ayam jago, anjing, dan babi ditempatkan pada muka pelat jam di atas latar belakang LV Monogram merah dan emas. Simbol-simbol tersebut diwakili dengan versi animasi dari shio, menghadirkan nada riang ke jam tangan yang canggih. Tambour Horizon menampilkan tali kulit khas LV Monogram berwarna coklat di samping pelat jam bermerek perunggu gelap. Tali dapat dipertukarkan antara tali kulit hitam LV Monogram dan tali olahraga LV Monogram merah.

Mempertahankan fitur serupa dari model sebelumnya, jam tangan ini hadir dalam casing baja tahan karat yang dipoles. Jam tangan ini juga menggunakan kaca safir pada cincin 24 jam. Logo Louis Vuitton terlihat jelas terukir pada kaca safir di bagian belakang casing.

Baca Juga:Pendiri Brand Mewah LV yang Terancam Boikot

Jam ini tahan air hingga 30 meter dan memiliki daya tahan baterai hingga 22 jam. Jam tangan ini juga kompatibel dengan smartphone Android 4.3+ dan iOS 9+.Model Tambour Watch Tahun Baru Imlek 2021 juga bersiap untuk pengaturan jet masa depan dengan tampilan jam perjalanan berjudul “My Flight”.

Jam ini dilengkapi dengan aplikasi perjalanan khusus panduan kota, tampilan jam 24 jam dengan 24 zona waktu, pemantau cuaca dan suhu, dan penghitung langkah. Informasi lebih lanjut tentang harga dan ketersediaannya belum diumumkan. Tetapi jam tangan pintar ini diharapkan akan dirilis dalam beberapa minggu mendatang.

Pendiri Brand Mewah LV yang Terancam Boikot Pendiri Brand Mewah LV yang Terancam Boikot

Pendiri Brand Mewah LV yang Terancam Boikot – Berikutnya kami akan memberi artikel terpercaya yang sudah kami ringkas dan buat seringan mungkin, agar bisa dibaca oleh segala kalangan,beriku pendiri brand lv yang terancam terkena boikot.

Brand fashion high end Louis Vuitton ikut diperbincangkan terkait ancaman boikot produk-produk Prancis. Seruan ini menggema di media sosial setelah Presiden Turki Erdogan meminta pada rakyatnya untuk stop membeli produk-produk dari Prancis.

“Aku menyerukan pada masyarakat, jangan pernah memberikan kredit untuk barang berlabel Prancis, jangan membelinya,” begitu kata Presiden Erdogan.

Seruan Presiden Erdogan ini langsung menggema di media sosial dan negara-negara Islam. Seperti dikutip dari WWD, Universitas Qatar, kampus pemerintahan, beberapa hari lalu dilaporkan menunda penyelenggaraan French Culture Week. Beberapa grup perdagangan Arab sudah menarik produk-produk Prancis dari rak-rak mereka. Dan menurut WWD, industri barang mewah, kosmetik serta makanan yang diprediksi akan terkena dampaknya. Dan Hashtag #BoycottFranceProducts #BoycottFrance ramai di media sosial dengan foto sederet logo brand Prancis yang diserukan diboikot.

Dari deretan logo brand Prancis yang diancam diboikot itu salah satunya adalah Louis Vuitton. Terlepas dari ancaman boikot, Louis Vuitton hingga saat ini masih berjaya sebagai brand fashion mewah paling bernilai di 2020. Menurut Forbes, pendapatan Louis Vuitton pada 2020 mencapai US$ 15 miliar.

Sejarah Louis Vuitton

Louis Vuitton yang kini dikenal sebagai produk mewah, siapa sangka dulunya didirikan oleh seorang pria miskin. Tahukah kamu siapa pendiri Louis Vuitton?

Louis Vuitton merupakan merek asal Prancis yang didirikan seorang pria bernama Louis Vuitton. Menariknya, seperti dikutip dari Brightside, Louis Vuitton yang kini dikenal sebagai brand mewah, didirikan oleh Louis Vuitton, seorang pria miskin dari desa kecil Anchay di Prancis. Ibunya yang dikenal sebagai pembuat topi meninggal dunia saat usianya 10 tahun dan ayahnya menyusul tidak lama kemudian. Dia kemudian tinggal bersama seorang ibu angkat.

Dari keterampilannya membuat kotak, Louis Vuitton asli membuka toko pertamanya di Paris pada 1854. Toko tersebut khusus mengepak barang-barang mudah pecah dan fashion. Saat itu lah, Vuitton membuat peti dengan bentuk ideal yang membuatnya jadi terkenal yakni kotak tanpa bentuk melengkung di bagian ujungnya. Peti itu pun dibuat anti air.

Peti atau koper yang diciptakan Louis Vuitton kemudian menjadi standar baru yang kemudian menjadi sangat populer hingga dia mempekerjakan lebih banyak orang hingga membuka toko di luar negeri, seperti London, New York, dan Philadelphia.

Pada 1854 selain membuka toko pertamanya, Louis Vuitton juga menikahi wanita pujaannya Clemence-Emilie Parriaux. Dari pernikahan tersebut dia dikaruniai seorang anak bernama Georges Ferreol Vuitton.

Louis Vuitton dan anaknya, Georges, sempat bersinggungan dengan ilusionis terkenal Harry Houdini. Pada 1886 Vuitton dan Georges menciptakan sebuah gembok. Mereka pun menantang Houdisi untuk bisa keluar dari koper buatan Louis Vuitton yang sudah digembok. Sayangnya hal itu tidak diwujudkan Houdini. Namun penolakan itu malah membuat Vuitton menyempurnakan temuannya. Gembok Louis Vuitton ini menjadi salah satu inovasinya.

Tidak tahan tinggal bersama ibu angkat yang mendidiknya sangat keras, Louis Vuitton melarikan diri dari rumah pada usia 13 tahun. Dari desanya yang jauh dari kota, Louis kecil pun berjalan ke Paris. Dia total melangkahkan kaki sejauh 469 km selama dua tahun selagi melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil sepanjang perjalanan.

Setelah berjalan kaki ratusan kilometer, Louis Vuitton berhasil sampai di Paris pada 1853. Pada saat itu Paris sedang diterpa kondisi ekonomi yang buruk. Louis pun tahu dia harus cepat menemukan pekerjaan jika tidak mau terjebak dalam kemiskinan lagi. Memiliki bekal dari keluarga seniman, di mana sang ibu pembuat topi, dan keluarga lainnya tukang kayu, Louis melihat sebuah peluang pekerjaan. Dia menjadi pekerja magang di seorang pembuat peti bernama Monsieur Marechal.

Baca Juga:Tas Bubble Tea dari Brand Louis Vuitton

Berkat kemampuannya, Louis Vuitton berkembang menjadi ahli pembuat peti. Louis Vuitton bekerja sebagai pembuat peti untuk Putri Pranvis, Eugenie de Montijo yang merupakan istri ketiga Napoleon Bonaparte. Kariernya semakin berkembang hingga dia mendapatkan klien-klien elite.

Louis Vuitton meninggal dunia pada 27 Februari 1892. Georges meneruskan bisnis sang ayah dengan melakukan ekspansi pada produk-produk mewah lainnya. Pada 1901, brand Louis Vuitton mulai membuat ‘streamer bag’ yakni tas untuk menyimpan baju kotor. Georges lah yang kemudian menciptakan monogram terkenal yang membuat brand Louis Vuitton mudah dikenali.

Pada 1998, brand Louis Vuitton bukan hanya memproduksi koper. Brand high end tersebut menjual busana, sepatu, dan aksesori yang kini lebih dikenal. Namun sebagai pelopor koper, Louis Vuitton masih sering diandalkan para ahli untuk membuat koper custom-made, misalnya untuk Piala Dunia.

Saat ini brand Louis Vuitton yang didirikan oleh pria bernama Louis Vuitton bernaung di bawah korporasi multinasional LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton atau lebih dikenal dengan LMVH yang kantor pusatnya berada di Paris, Prancis.

Selama enam tahun berturut-turut yaitu 2006 hingga 2012, seperti dikutip dari Globe & Mail, Louis Vuitton meraih gelar brand mewah paling bernilai di dunia. Pada 2012, nilai dari brand Louis Vuitton mencapai US$ 25,9 miliar. Dan pada 2020 ini, Louis Vuitton berada di urutan pertama brand fashion mewah paling bernilai di dunia. Menurut Forbes, valuasi Louis Vuitton pada 2020 mencapai US$ 47,2 miliar.

Fakta Menarik Brand Louis Vuitton Fakta Menarik Brand Louis Vuitton

Fakta Menarik Brand Louis Vuitton – Brand ini sudah tidak asing lagi didengar, dengan sebutan brand fashion papan atas. Kepopuleran brand ini tidak hanya dikarenakan kemewahannya, tetapi brand ini juga menawarkan barang-barang unik dan menarik. Nama brand ini diambil dari nama sang pendiri bernama Louis Vuitton yang lahir pada tahun 1821. Setelah melalui perjalanan karier yang panjang di bidang craftmanship di Prancis, ia pun akhirnya mendirikan perusahaan boks dan koper Louis Vuitton pada tahun 1854.
Kepopuleran Louis Vuitton karena craftmanship dan kualitas-kualitas produknya membuat banyak perusahaan turut menjiplak desain dan ciri khas mereka. Akhirnya, pada tahun 1896, pola monogram Louis Vuitton mulai diperkenalkan. Pola ini begitu ikonis dan sudah melekat selama 123 tahun dalam desain-desain Louis Vuitton.

Bagaimana tidak, monogram yang terdiri dari huruf L dan V yang saling bertautan, pola bunga dengan empat kelopak, dan pola organic bergaya trefoil, dari inspirasi perpaduan gaya Jepang dan desain oriental pada era Victoria ini seringkali menjadi simbol ‘kelas’ dalam lingkungan sosial.

Brand yang telah berdiri sejak 1854 ini menjadi salah satu saksi perkembangan fashion dunia. Berikut kumparanWOMAN rangkumkan 12 fakta unik dan menarik lainnya dari brand papan atas Louis Vuitton. Apa saja?

1. Sebelum terkenal karena brand yang diciptakannya, Louis Vuitton adalah seorang laki-laki yang berasal dari keluarga pekerja menengah ke bawah. Ia meninggalkan rumah keluarganya sejak usia 13 tahun untuk mengejar mimpi besarnya ke Paris.

2. Perjalanan 292 mil atau 470 km dari rumah keluarga yang terletak di daerah Prancis Timur ke Paris, ia lakukan dengan berjalan kaki selama dua tahun lamanya. Perjalanan panjang itu ia lakukan dengan pemberhentian secara berkala untuk melakukan pekerjaan sambilan. Ini cara yang harus dilakukannya untuk menopang kebutuhan dan kehidupan pribadinya.

3. Sesampainya di Paris pada tahun 1837, Louis Vuitton menemukan pekerjaan di sebuah workshop untuk membuat boks dan kemasan. Kelihaiannya diakui banyak orang. Reputasinya meningkat dan namanya semakin dikenal sebagai pengrajin terhormat. Karena ketrampilannya tersebut, ia ditunjuk sebagai staf khusus yang membuat boks-boks (koper) untuk kebutuhan Eugenie de Montijo, yang merupakan istri dari Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis dari tahun 1804 sampai tahun 1814. Momen inilah yang jadi ‘pintu’ utamanya untuk bergabung dengan kelas-kelas elit Prancis.

4. Perjalanan kariernya tersebut membuatnya bisa mendirikan perusahaan sendiri pada tahun 1854. Meski perusahaan Louis Vuitton sudah berdiri sejak 1854 sebagai perusahaan boks dan koper traveling, ia baru mulai membuat tas jinjing pada tahun 1892.

5. Salah satu tas Louis Vuitton paling populer dengan nama ‘Speedy’, pada mulanya sebenarnya diciptakan untuk boks atau koper traveling. Namun, suatu saat Audrey Hepburn, bintang film sekaligus ikon fashion, menelepon pihak Louis Vuitton dan memohon untuk dibuatkan versi mini dari Speedy tersebut. Sontak, kepopuleran tas Speedy ini memuncak dan jadi model tas Louis Vuitton paling populer hingga sekarang.

6. Selain Speedy, tas ‘Alma’ menjadi salah satu model tas Louis Vuitton yang tak kalah populer. Tas ini sebenarnya didesain khusus atas permintaan pribadi Coco Chanel. Bentuknya yang chic, cantik, dan feminin ini digandrungi oleh setiap perempuan hingga saat ini. Uniknya lagi, tas Louis Vuitton model Alma ini jadi satu-satunya tas yang pernah dijinjing Coco Chanel, selain mereknya sendiri.

7. Tahukah Anda bahwa proses quality check dari tas Louis Vuitton melalui proses yang sangat panjang? Sebelum dijual, tas Louis Vuitton harus melalui tes ketahanan seperti dimasukkan benda berat seberat 3,5 kg dan dijatuhkan dari ketinggian setengah meter selama empat hari berturut-turut. Tidak sampai di situ, zipper dari tasnya pun harus terus menerus dibuka-tutup sebanyak 5,000 kali untuk memastikan ketahanannya. Wow!

8. Fakta yang satu ini mungkin akan menyakitkan bagi sebagian Anda. Semua tas dan sepatu Louis Vuitton yang tak terjual, akan dikembalikan ke pabrik di Prancis, lalu dihancurkan dan dibakar. Menyakitkan, bukan? Ya, hal ini harus dilakukan untuk memastikan imej brand Louis Vuitton agar tetap eksklusif.

Baca Juga: Gelar Fashion Louis Vuitton Telah Kembali Show Di China

9. Louis Vuitton tidak akan pernah memberikan harga diskon pada barang-barang yang mereka produksi. Seperti poin sebelumnya, jika barang tak terjual, maka diskon bukanlah solusi.

10. Semua tas Louis Vuitton dibuat secara handmade-atau murni keahlian tangan. Kabarnya, dibutuhkan waktu satu minggu untuk membuat satu tas.

11. Monogram populer Louis Vuitton dipopulerkan oleh anak Louis Vuitton yang bernama Georges Vuitton. Monogram tersebut dibuat untuk menghindari segala bentuk plagiarisme dari perusahaan lain terhadap brand Louis Vuitton.

12. Louis Vuitton memiliki sekitar 460 toko di 50 negara. Tokonya yang terbesar terletak di 101 avenue des Champs-Elysees, Paris, Prancis dengan luas sekitar 1800 meter persegi. Kemudian, di Nevada, Amerika Serikat, Louis Vuitton memiliki lima butik resmi di jajaran jalan yang sama. Dan yang terunik terletak di Singapura yang kini menjadi bagian dari ikon wilayah Marina Bay Sands. Toko tersebut memiliki toko buku, tempat relaksasi, galeri, hingga terowongan bawah laut yang mengarah ke hotel dan mal Marina Bay Sands.

Louis Vuitton Atau Hermès Mana Merek Mewah Yang Lebih Asli Louis Vuitton Atau Hermès Mana Merek Mewah Yang Lebih Asli

Louisvuittond.net – Hari ini kita hidup di zaman keaslian. Merek otentik, komunikasi otentik, dan hubungan otentik dengan konsumen diperlukan. Sebanyak 86% konsumen mengatakan keaslian merek itu penting ketika memutuskan merek mana yang akan didukung, menurut penelitian yang dilakukan oleh Stackla.

Temuan ini divalidasi oleh studi global lain oleh Cohn & Wolfe. Dalam survei terhadap 15.000 responden, 91% konsumen global mengatakan mereka akan menghargai merek karena keasliannya melalui “pembelian, investasi, dukungan atau tindakan serupa.” Dari 91% ini, lebih dari 60% akan “membeli atau menyatakan minat beli meningkat” dalam merek yang mereka anggap otentik.

Tidak ada dalam bisnis adalah pertaruhan keaslian yang lebih tinggi daripada di pasar mewah, di mana kepercayaan konsumen pada warisan, keahlian dan kualitas dihargai oleh kesediaan mereka untuk membayar premi untuk hak istimewa kepemilikan.

Dalam perekonomian saat ini, di mana konglomerat multinasional besar seperti LVMH dengan fiksasi di garis bawah dan pertumbuhan kuartalan dan keuntungan mendominasi, merek-merek mewah terancam karena terlalu hadir di mana-mana dan di mana-mana.

Ketika sebuah merek mewah terlihat dan tersedia di mana-mana, nilai kemewahannya – keasliannya sebagai kemewahan sejati – menjadi encer. Kontributor Fellow Forbes.com, Walter Loeb, menyajikan tinjauan luar biasa tentang keseimbangan halus yang dihadapi LVMH menjaga eksklusivitas dan meningkatkan aksesibilitas.

Keaslian adalah tantangan utama untuk merek-merek mewah
“Keaslian dianggap sebagai tantangan bagi segmen mewah di zaman kita,” tulis Patricia Anna Hitzler dan Günter Müller-Stewens dari Universitas St. Gallen, Swiss, dalam sebuah studi berjudul “Peran Strategis Keaslian dalam Bisnis Mewah.” Dalam penelitian ini, penulis mendefinisikan pendorong utama keaslian merek mewah untuk menjadi keahlian, kelangkaan pasokan, estetika yang unik dan tautan ke asal.

Lebih lanjut, Hitlzer dan Müller-Stewens menyarankan bahwa laba harus mengambil kursi belakang ke nilai dan cita-cita yang lebih tahan lama untuk mendapatkan status merek mewah yang benar-benar otentik untuk diperoleh:

Makna dan orientasi jangka panjang adalah prinsip-prinsip panduan, di mana organisasi yang ingin dianggap otentik harus memberikan perhatian khusus. Ini mungkin termasuk motif, seperti melestarikan pekerjaan atau mengembangkan warisan sejarah dan budaya. Berjuang demi keuntungan, para ahli menggarisbawahi, tentu saja, penting untuk kelangsungan hidup suatu organisasi. Namun demikian, realisasi laba yang ditargetkan tidak semata-mata menentukan kepuasan terpenuhi dan langgeng. Seorang pakar memberi tanda: ‘Pasti ada sesuatu yang lain selain dari dunia angka.’ ‘Sesuatu yang lain’ ini adalah tujuan yang lebih tinggi, sebuah misi yang harus menjadi bagian dari identitas organisasi mewah, yang, bersama dengan nilainya, memberi perusahaan kerangka kerja di mana ia harus beroperasi.

Dengan mempertimbangkan perspektif ini, saya mempelajari dua merek mewah paling terkenal di dunia, Louis Vuitton dan Hermès, untuk melihat bagaimana mereka bertumpuk dalam keaslian. Pada mulanya memerah Louis Vuitton peringkat tinggi pada daftar Cohn & Wolfe Global Authentic Brand 100, diberi peringkat No. 65. Sebaliknya, Hermès adalah tidak ada dalam daftar itu.

Tetapi penampilan bisa menipu, seperti dalam pandangan saya, Hermès berdiri tegak di atas Louis Vuitton dalam kemewahan otentik. Inilah alasannya:

Baca Juga : Protes Hong Kong Memaksa Louis Vuitton Untuk Menutup Toko

Bisikan mewah otentik, itu tidak berteriak
Secara keseluruhan, LVMH jauh lebih banyak berinvestasi dalam biaya pemasaran dan penjualan daripada Hermès. Pada 2017, 38,4% dari keseluruhan pendapatan perusahaan sebesar € 42,6 miliar dialokasikan untuk biaya pemasaran dan penjualan. Sebagai perbandingan, Hermès mencurahkan 29,8% dari pendapatan € 5,5 miliar untuk penjualan, pemasaran, dan biaya administrasi.

Namun, angka-angka ini bukan perbandingan ketat antara apel dan apel karena LVMH mencakup 70 merek individu versus merek Hermès.

Daftar merek paling berharga di dunia dari Forbes membahas secara spesifik. Louis Vuitton (merek), peringkat No. 15 secara keseluruhan dan bernilai $ 33,6 miliar, dilaporkan menghasilkan $ 12,9 miliar dalam penjualan dan menginvestasikan $ 5,4 miliar – 42,9% dari penjualan – pada iklan perusahaan. Jika itu tidak berteriak, saya tidak tahu apa itu. (Catatan: LVMH tidak melaporkan pendapatan dari masing-masing merek.)

Sebaliknya, Hermès menghabiskan 5% dari penjualan yang dilaporkan ($ 298 juta dari $ 6 miliar dalam pendapatan) untuk iklan. Keanggunan yang halus dan tenang adalah pendekatan Hermès terhadap periklanan, bukan paparan luas seperti Louis Vuitton.

Kemewahan otentik bukan untuk semua orang, tetapi untuk seseorang yang spesial
Ya, kanvas logo monogram Louis Vuitton memiliki warisan yang membentang lebih dari seabad, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1896. Tetapi hari ini, meskipun harga mahal diperintahkan untuk tas kanvasnya, Louis Vuitton dan tas LV tersebut mungkin merupakan pelaku logo terbesar di dunia. polusi.

Ke mana pun Anda pergi, tas LV mengintai. Ubiquity sepenuhnya menentang kode etik merek mewah otentik.

Hermès melakukan kebalikan dari branding langsung Louis Vuitton. Gayanya khas dan langsung dapat dikenali oleh para ahli kognitif, meskipun dalam budaya kita yang terobsesi dengan selebriti, merek Hermès telah menjadi lebih dikenal secara luas.

Dan sementara selebriti mungkin dengan bangga mengenakan Hermès – siapa lagi yang benar-benar mampu membelinya? – mereka memiliki merek, tetapi tidak dimiliki oleh merek. Victoria Beckham dikatakan memiliki koleksi tas tangan Hermès senilai lebih dari $ 2 juta.

Sementara Hermès menolak dukungan selebriti sebagai strategi pemasaran, Louis Vuitton sepenuhnya merangkulnya. Misalnya, Angelina Jolie dibayar sekitar $ 8,5 juta untuk mewakili merek dalam satu kampanye iklan pada 2011. Ini konon adalah salah satu kesepakatan dukungan tertinggi yang pernah ada untuk satu kampanye iklan.

Dalam Louis Vuitton melanggar aturan utama lain dari pemasaran merek mewah yang dijelaskan oleh Vincent Bastien dan Jean-Noël Kapferer dalam bab dalam Pemasaran Mewah 2013: Tantangan untuk Teori dan Praktek:

“Selebriti harus digunakan dengan hati-hati dalam strategi mewah, jika merek ingin membangun kekuatan harga, perbedaan, gaya dan daya tarik berkelanjutan. Mereka tidak digunakan sebagai agen penjualan, bagi pelanggan baru untuk membeli produk melalui model imitasi, ”saran mereka.

Hermès melakukannya dengan benar, menggunakan pembeli merek sejati untuk memberikan kesaksian otentik tentang nilai luar biasa merek tersebut.

Kemewahan autentik sulit dipahami, tidak mudah diakses
Eksklusivitas melalui distribusi yang terkontrol dari koleksi merek mewah adalah ciri khas lain dari kemewahan otentik. Sama seperti merek mewah otentik yang tidak dapat dipromosikan atau dirancang untuk menarik perhatian semua orang, bagian dari misteri dan keajaiban merek mewah sedang sulit dipahami, langka dan sulit didapat.

Louis Vuitton mengoperasikan sekitar 460 butik bermerek. Hermès tidak jauh di belakang dengan lebih dari 300 butik di seluruh dunia, tetapi di situlah kesamaan berakhir. Louis Vuitton juga didistribusikan secara luas di seluruh dunia di berbagai department store mewah, seperti Neiman Marcus, Saks, Bloomingdales, Nordstrom dan Barneys, sementara hanya parfum, peralatan makan, dan hadiah Hermès yang terbatas hadir di lokasi yang sama.

Louis Vuitton bukanlah apa yang orang sebut tidak dapat diakses, justru sebaliknya. Las Vegas, misalnya, memiliki sembilan lokasi tempat produk Louis Vuitton dapat dibeli. Sebaliknya, Hermès secara ketat membatasi produksi dan tempat untuk membeli jajaran produk intinya. Selain itu, Hermès memiliki daftar tunggu untuk orang-orang yang ingin membeli Birkin, salah satu tas klasiknya yang sering membutuhkan menunggu selama dua tahun atau lebih.

Hermès secara ketat membatasi produksi dan distribusi produk-produknya dengan maksud eksplisit bukan untuk memenuhi permintaan konsumen, tetapi untuk meningkatkannya. Louis Vuitton, di sisi lain, merespons tekanan pemegang sahamnya untuk mendorong pertumbuhan. Itu membutuhkan lebih banyak produk yang didistribusikan di lebih banyak tempat.

Untuk kemewahan otentik, semakin dalam Anda menggali, semakin autentik jadinya

Kemewahan otentik adalah inti dari merek Hermès dan apa artinya. Louis Vuitton, meski tetap mempertahankan penampilan, tidak sesuai.

Misalnya, Bisnis Korea melaporkan tahun ini bahwa sepatu Louis Vuitton diproduksi di sebuah pabrik di Rumania kemudian dikirim ke Italia di mana sol terpasang. Itu agar dapat menempelkan tag “Buatan Italia” pada masing-masing label. Ini sepenuhnya legal, meskipun tidak secara otentik halal, karena aturan Uni Eropa menentukan bahwa negara asal dapat diklaim di mana produksi akhir dilakukan, bukan tempat mayoritas produk dibuat.

Judul merek mewah otentik harus diperoleh, bukan memproklamirkan diri

Untuk menjadi merek mewah yang autentik, penunjukan harus diperoleh (Hermes) bukan hanya gelar yang diklaim (Louis Vuitton). Dalam analisis terakhir, Louis Vuitton sangat memusatkan perhatian pada pemasaran, tetapi ringan pada keaslian. Hermès adalah kebalikannya.

Fakta bahwa Louis Vuitton dapat terus mendorong penjualan dan pertumbuhan seperti yang ada pada kreditnya, dengan hasil 1H2018 terbaru yang membanggakan pertumbuhan pendapatan 25% dalam kategori mode dan barang-barang kulit di mana Louis Vuitton diklasifikasikan.

Tetapi seperti yang dikatakan Abraham Lincoln, “Anda dapat membodohi beberapa orang sepanjang waktu, dan semua orang sepanjang waktu, tetapi Anda tidak dapat membodohi semua orang sepanjang waktu.”

Sampai saat ini, Louis Vuitton telah melakukan pekerjaan yang bagus untuk mempertahankan pertumbuhan yang agresif melalui pemasaran dan manajemen yang ahli, tetapi ia bermain dengan cepat dan longgar dengan keasliannya. Ini mungkin tumit Achilles dari merek yang pada akhirnya akan melonjak. Pelanggan yang benar-benar kaya menginginkan real deal – merek mewah otentik – bukan pose pose atau pretender.

Protes Hong Kong Memaksa Louis Vuitton Untuk Menutup Toko Protes Hong Kong Memaksa Louis Vuitton Untuk Menutup Toko

Louisvuittond.net – Hugo Boss, Ralph Lauren, L’Occitane, Richemont yang memiliki Cartier, Swatch Group, Tiffany, Moncler, Calvin Klein, Gucci, dan Salvatore Ferragamo semuanya dalam catatan tentang hit yang telah dibawa merek mereka ke sana, dengan penurunan penjualan sebanyak 45% dilaporkan.

L’Oreal dan Hermès sama-sama mengungkapkan penurunan penjualan di wilayah tersebut, tetapi memberikan berita positif dengan mengatakan bahwa peningkatan penjualan di Daratan China akan membawa mereka melewati punuk.

LVMH mengatakan hal yang kira-kira sama, melaporkan “kemajuan baik” di Asia, “terlepas dari konteks yang sulit di Hong Kong,” selama kuartal ketiga 2019. Reuters melaporkan bahwa penjualan Hong Kong LVMH telah menurun sekitar 25% pada kuartal ketiga 2018.

Hong Kong dalam resesi
Protes yang diperpanjang telah menjerumuskan Hong Kong ke dalam resesi, diumumkan secara resmi pada pertengahan November ketika PDB turun 3,2% pada periode dari Juli hingga September.

Penjualan ritel merasakan beban terbesar, dengan penjualan Oktober 2019 dari tahun ke tahun turun 24,4%, rekor resmi, diikuti oleh penurunan pada bulan November sebesar 23,6%. Melalui sebelas bulan pertama tahun ini, total penjualan ritel turun 10,3%, menurut Departemen Sensus dan Statistik.

Sektor ritel yang melayani pengeluaran pilihan konsumen telah sangat terpengaruh, dengan penjualan ritel di toko pakaian dan sepatu, department store dan perhiasan, jam tangan dan toko hadiah “berharga” semuanya digandakan dua digit selama sebelas bulan pertama tahun ini.

Namun, penurunan di sektor-sektor ini benar-benar meningkat sejak Agustus. Pada bulan November saja penjualan toko pakaian dan alas kaki turun 31,8%, department store turun 32,9% dan perhiasan, jam tangan, dan hadiah berharga turun 43,5%.

Pengecer tidak bisa menyerap kerugian ini lama. Sejauh ini, agen real estat Midland IC&I melaporkan hampir 500 dari 7.400 toko di empat distrik perbelanjaan utama Hong Kong telah ditutup dan diharapkan 600 lainnya akan ditutup pada tahun 2020.

Mengingat situasi yang tidak dapat diprediksi, tidak ada kelegaan yang terlihat. “Saya percaya sektor ritel akan terus menghadapi masa-masa sulit di paruh pertama tahun ini, karena saya masih tidak dapat membayangkan bahwa kerusuhan sosial akan diselesaikan dalam waktu dekat,” kata Annie Tse Yau On-yee, ketua Asosiasi Manajemen Ritel Hong Kong.

“Prospek penjualan ritel sangat tergantung pada dampak dari gejolak sosial, yang telah sangat mengurangi sentimen konsumen,” lanjutnya.

Turis berpaling
Sementara Hong Kong hanyalah sebuah blip di pasar mewah global, yang diharapkan oleh Statista akan mencapai $ 6,3 miliar pada tahun 2020 di total pasar global $ 331,3 miliar, itu masih merupakan pasar yang lebih penting daripada seluruh Kanada, dengan sekitar $ 6 miliar pada barang mewah penjualan.

Tetapi tidak seperti Kanada, Hong Kong secara historis diuntungkan dari pembelanjaan yang murah hati oleh para penggila dunia yang kaya. Turis dikatakan menyumbang hingga 70% dari pembelian sektor mewah di sana.

Secara keseluruhan Hong Kong Tourist Bureau melaporkan pariwisata turun 10% dari tahun ke tahun hingga November 2019, tetapi pada bulan November saja ia turun 56%.

Penurunan kunjungan wisatawan paling tajam dari Cina Daratan, pasar wisata terbesar yang berasal sejauh ini dan target utama untuk merek-merek mewah di kota, serta pasar Asia lainnya (masing-masing turun 58% dan 47%), tetapi pengunjung jarak jauh dari AS, Inggris, Prancis, Australia dan negara-negara lain merosot 36,1% pada bulan November.

Bagi orang kaya, semakin khawatir tentang keamanan di dunia yang semakin tidak aman, Hong Kong tidak lagi menjadi tujuan utama.

Mike O’Rourke, CEO dari firma konsultasi keamanan global Advanced Operational Concepts, mengatakan kepada Los Angeles Times bahwa Hong Kong sekarang adalah tempat untuk menghindari perjalanan wisata, mencatat meningkatnya jumlah protes di area perbelanjaan utama, seperti protes kekerasan baru-baru ini di toko utama Adidas.

Baca Juga : Mengapa Supreme Dan Louis Vuitton Merupakan Pasangan Sempurna?

Hanya tren blip atau jangka panjang?
Mengingat meningkatnya kekerasan dan meningkatnya ketidakpastian tentang kapan protes akan mereda, dapatkah kita mengharapkan lebih banyak merek mewah mengikuti jejak Louis Vuitton dan mundur dari kekacauan yang telah terjadi di Hong Kong ?.

Pada bulan September, saya berbicara dengan Daniel André Langer, Ph.D., CEO firma konsultasi manajemen Équité, profesor strategi mewah di Pepperdine University dan seorang kontributor untuk Jing Daily, yang memperkirakan protes akan memiliki dampak yang tidak akan bertahan lama.

“Jika Anda melihat sejarah Hong Kong, krisis seperti ini muncul berulang-ulang setiap tiga hingga lima tahun. Ini mungkin akan reda juga. Jelas, kami melihat dampak sementara, “dan dia menambahkan,” Ini pada akhirnya akan menjadi non-peristiwa dalam hal dampak bisnis jangka panjang yang diharapkan. “

Bahkan ketika situasinya memburuk sejak saat itu, Langer tetap yakin bahwa Hong Kong akan bangkit kembali setelah situasi menjadi normal, dan terutama sektor mewah.

“Merek-merek mewah lebih tahan terhadap resesi daripada kategori-kategori lain seperti yang ditunjukkan oleh resesi sebelumnya seperti resesi global 2008,” katanya. “Juga di Hong Kong, merek-merek mewah yang tetap loyal dan terus berinvestasi dalam ekuitas merek akan kembali lebih kuat.”

Tetapi kemudian penyebab mendasar dari resesi ini – kerusuhan politik dan sosial – sangat berbeda dari yang terakhir. Meskipun telah diperburuk oleh perang perdagangan AS / Tiongkok, resesi ini sebagian besar adalah dari bawah ke atas, bukan dari atas ke bawah yang disebabkan oleh perubahan sentimen konsumen yang lebih sulit ditangani.

Lebih lanjut, ini adalah hasil dari gerakan akar rumput yang dipicu oleh berbagai kebencian sosial-politik terhadap para elit, sehingga mudah untuk melihat mengapa merek-merek mewah menjadi target, yang mewakili simbol ketidaksetaraan pendapatan yang paling terlihat.

Langer, bagaimanapun, merasakan ketahanan mewah terhadap naik turunnya ekonomi akan membuat Louis Vuitton dan rekan-rekannya melaluinya. “Keputusan Louis Vuitton untuk menutup satu toko menurut saya bukan sinyal merek meninggalkan Hong Kong,” katanya.

“Merek itu mencoba menegosiasikan kembali sewa yang selangit dan memutuskan – setelah negosiasi gagal – untuk meninggalkan ruang itu. Ini tidak biasa dan terjadi sepanjang waktu di seluruh dunia. Saya yakin merek itu, sebagai merek mewah terkemuka di dunia, akan muncul kuat begitu HK kembali tumbuh, ”lanjutnya.

Namun, yang lain tidak begitu percaya diri. “Untuk banyak merek mewah, Hong Kong [secara historis] telah mewakili lebih dari 5% dari penjualan global mereka, yang merupakan bagian yang signifikan, [dan bahkan lebih untuk jam tangan dan perhiasan], jadi masuk akal untuk memiliki jejak ritel besar di kota, ”Mario Ortelli, mitra pengelola perusahaan penasihat mewah Ortelli & Co. kepada South China Morning Post.

“Tetapi jika kedatangan wisatawan turun dan orang Cina berhenti datang, jejak ritel semacam itu menjadi berlebihan dan tiga hingga empat toko untuk merek mewah akan cukup,” lanjutnya.

Saya percaya domino baru mulai jatuh. Sekarang pemimpin industri mewah telah mengambil sikap, kemungkinan merek-merek mewah lain di garis depan pasar Hong Kong yang semakin bergejolak akan mengikuti jejaknya, tidak meninggalkan pasar sama sekali tetapi dengan serius mengontrak eksposur mereka di sana.

Seorang eksekutif top tanpa nama di LVMH mengisyaratkan sebanyak pada Paris Fashion Week baru-baru ini, ketika dikutip oleh South China Morning Post mengatakan bahwa jika situasinya tidak membaik, Hong Kong berisiko menjadi “sama seperti kota lapis kedua atau ketiga lainnya di Tiongkok, ”daripada kota tingkat pertama yang telah lama ada.

Mengapa Supreme Dan Louis Vuitton Merupakan Pasangan Sempurna? Mengapa Supreme Dan Louis Vuitton Merupakan Pasangan Sempurna?

Louisvuittond.net – Toko skate yang dia mulai setelah meninggalkan merek skate ternama, Union dan Stussy, yang sebelumnya telah melampaui $ 50 juta dalam penjualan tahunan, berjalan cukup baik untuk dirinya sendiri. Didirikan pada tahun 1994 dengan logo yang didasarkan pada seni propaganda Barbara Kruger, Jebbia kelahiran Inggris, kelahiran Amerika, telah menghabiskan 20-an tahun terakhir untuk mengawasi sebuah merek yang dikenal karena memilih kolaborasi cerdas, mengkoleksi koleksi eklektik, dan menggerakkan kontroversi kontribusinya. sepanjang jalan.

The aughts, untuk kolektor sepatu lama dan skateboard zaman keemasan yang film-film favoritnya masih didistribusikan di VHS, adalah masa kejayaan merek tersebut. Kaos logo kotak mereka dikenakan oleh beberapa tokoh generasi yang paling dicintai: Raekwon, Kermit, Rosa Acosta, Lou Reed, Mike Tyson, dan Jim Jones. Ketika terjun Nike ke dunia alas kaki khusus skateboard disambut dengan ketidaksukaan hampir bulat dari skater, kolaborasi Nike Dunk Hi Supreme memikat hati dengan penggemar garis keras waspada terhadap kehadiran perusahaan multinasional. Dan, ketika sebagian besar mode kelas atas yang dibayar untuk sepatu kets adalah lari kecil Chanel Reebok Pumps, mereka bahkan berhasil menarik perhatian Louis Vuitton dalam bentuk gencatan dan penghentian pemberitahuan untuk desain dek skateboard yang merobek monogram klasik . Supreme menurut, dan hanya itu.

Maju cepat lebih dari satu dekade, dan Supreme telah mengendarai beruntun panas sejak 2010. Munculnya rap Internet dan rapper yang membuatnya hanya mendorong cache merek lebih tinggi dengan generasi penggemar yang terus melebar, berkat orang-orang seperti Tyler, Sang Pencipta dan ASAP Rocky. Ini berkolaborasi dengan Jordan Brand, Nike, dan North Face, memiliki kemeja yang dikenakan oleh orang-orang seperti Kate Moss, Neil Young, dan Diddy. Di sisi alas kaki, kekayaannya bahkan lebih baik: Mereka telah menghasilkan segelintir Jordan, Foamposites, Air Force Ones, More Uptempos, dan Van di sepanjang jalan, menutup jalan-jalan, menabrak server dan memberikan reseller dan kolektor yang sesuai. Harga jual kembali untuk sepasang Supreme x Nike Air Force 1 Hi putih, yang dijual seharga $ 150 pada 2014 duduk nyaman di sekitar $ 650, sedangkan colorway Foamposite hitam mereka dari tahun yang sama, yang dijual seharga $ 220, dijual seharga lebih dari $ 900.

Berkat pengawasan ketat dari Kim Jones, direktur gaya yang baru dipasang untuk operasi Louis Vuitton yang siap pakai, tikus skate kotak merah datang untuk mengingini sekarang menghiasi batang dan tas hobo yang dijual dengan harga lebih dari rata-rata kepemilikan orang Amerika di hutang kartu kredit. Mungkin butuh waktu lebih dari satu dekade, tetapi sebuah merek yang menghabiskan sebagian besar dekade terakhir menunjukkan potongan busana skateboarding ke dunia akhirnya memiliki pendengar yang menawan di tingkat atas dunia mode. Ini bukan prestasi kecil, dengan peregangan apa pun: Mereka sama sekali tanpa pakaian wanita, tidak pernah memproduksi alas kaki mereka sendiri, dan desas-desus berumur puluhan tahun bahwa kemeja mereka dicetak dan dijahit oleh beberapa pakaian yang sebelumnya tidak dikenal sebelumnya di Chinatown terdekat bertahan.

Langit tampak seperti batas untuk Supreme. Tapi Jebbia, pemiliknya, mungkin telah melewatkan kesempatan terbaiknya di hari gajian yang biasanya diperuntukkan bagi para kutu buku dan penyerang cepat dengan satu nama. Dan itu bagus.

Dari saat kolaborasi Agung Louis Vuitton menghantam Internet, desas-desus bermula bahwa Supreme memiliki lebih banyak pemikiran daripada koleksi sekali pakai dengan rumah mode. Dalam industri yang sedang booming dengan fokus yang semakin besar pada titik-titik harga yang semakin menipis dan perputaran persediaan yang lebih cepat, bahkan sebuah merek seperti Supreme, beberapa berpendapat, harus merasakan sejumput dari ruang yang diguncang oleh orang-orang seperti Zara dan Fashion Nova. Di luar itu, fashion tinggi dan streetwear lebih dekat dari yang pernah ada sebelumnya, dengan Rick Owens, Raf Simons, Ricardo Tisci, Public School, OFF WHITE, dan VLONE memutar slot-slot Paris dan New York Fashion Week dan tawaran Hadiah LVMH sambil bergaul dengan Kanye West dan ASAP Rocky dan menjatuhkan koleksi dengan Nike dan Adidas.

Baca Juga : Baca Ini Jika Kamu Menyukai Louis Vuitton Luggage

Kim Jones, yang memimpin Umbro sebelum naik kapal ke Vuitton, telah menceritakan cintanya pada olahraga dan sepatu kets ke outlet mana pun yang akan mendengarkan hampir satu dekade sekarang. Dan Kanye West telah menyebarkan kata-kata kasarnya ke dalam kemitraan yang menguntungkan dengan Adidas yang menghasilkan popularitas yang jarang terlihat oleh pasar penjualan kembali. Apa pun jalan yang ditempuh seseorang, tampaknya momen yang sempurna bagi Supreme dan Louis Vuitton untuk bergabung.

Karena tidak ada berita tentang merger atau akuisisi, maka rumor asimilasi Supreme sangat dilebih-lebihkan. Terlepas dari kerusakan yang dilakukan pada dompet Jebbia, jika dia pada suatu titik mempertimbangkan untuk mencairkan, dia pintar untuk memperhatikan tulisan di dinding. Fashion kelas atas tidak kurang siap untuk berurusan dengan streetwear dengan cara yang berarti daripada ketika Supreme diminta untuk berhenti dan berhenti. Tentu, Jones mencari kolaborasi dengan merek streetwear sejati dan teruji (kolaborasi desain fragmen juga telah diejek di media sosial) tetapi pengakuan bukanlah infrastruktur. Supreme, perlu dicatat, telah lama memegang komitmen untuk perputaran persediaan yang cepat: Toko online mereka telah diperbarui setiap minggu selama bertahun-tahun, dan lokasi batu-dan-mortir secara teratur mengisi kembali dan memutar persediaan. Poin harga untuk undian utama Supreme (hoodies, topi, tee, skate deck) tetap hampir sama selama hampir satu dekade, dan kualitasnya disaingi oleh sedikit orang di dunia streetwear.

Di luar simbiosis yang ditemukan antara raksasa tua tetapi dihormati dan merek yang ingin melebarkan sayapnya, Supreme memiliki filosofi kerja yang tidak dapat dipahami oleh para pendukung industri. Itu tidak dibuat dalam menanggapi perubahan pasang, itu penting untuk kesuksesan mereka selama lebih dari selusin tahun. Jika Louis Vuitton tertarik, kemungkinan besar mereka ingin memilih otak Supreme daripada membasmi tim desain mereka. Melakukannya dengan sukses akan menempatkan Louis Vuitton dalam posisi untuk menjadikan dirinya sebagai lembaga mode besar pertama yang berhasil berputar untuk konsumen generasi baru, mengarahkan kapal pesiar ke arah baru di depan paket yang berebut untuk menyayangi diri sendiri kepada audiensi yang kurang terkesan dengan penonton. barang-barang tiket besar seperti tahun-tahun berlalu.

James Jebbia tidak pernah mendapat tawaran nyata atau melihat ketidakmampuan industri untuk mengadaptasi model yang sangat mereka butuhkan. Bagaimanapun, Supreme telah melakukan lompatan dari Lafayette ke Paris, Louis Vuitton telah membuka mata pelanggan lama dan baru, dan konsumen memiliki barang-barang baru untuk diidamkan. Supreme dan Louis Vuitton mungkin membuat teman yang aneh, tetapi tidak terlalu lama berkeliaran, dan dunia mode adalah tempat yang lebih baik untuk itu.